La Chŭte, Albert Camus, Nirwana, Yogyakarta, 2003, cet I
Hal 21, Rasa keadilan, kepuasan karena memiliki dalih, kebahagiaan dan penghargaan thdp diri sendiri adlh sumber kekuatan utk berdiri tegak dan berjalan maju.
23, saya menikmati sifat asli diri saya, dan kita semua tahu, itulah hakekat kebahagiaan
41, manusia sebenarnya bermuka dua, ia tidak bisa mencintai tanpa ikatan cinta
81, bercinta adlh sebuah pernyataan, padanya egoism e menjerit tanpa ditutup2i, kesombongan bertahta, atau sebaliknya terungkap kemurahan hati yang sejati.
82, kebersahajaan membuat saya menonjol dlm pergaulan, kerendahan hati berguna untk menaklukkan, kebaikan untuk menekan, tanpa bersikap pamrih membuat kita memperoleh segala hal.
112, kita tak boleh mati tanpa mengakui semua impian kita, tdk mengaku pd Tuhan, atau pada salah satu wakilnya, atau pada manusia – pada sahabat – atau seseorang yang kita cintai, karena seseorang hanya punya 1 impian besar dlm hidupnya, utk slamanya tak seorangpun mengetahui impian itu, krn satu2nya yg tahu sudah mati, tidur membawa rahasia itu.
120, kita harus menda’wah diri kita dgn cara yang pedih
131, pengumbaran nafsu sejati adlh sang pembebas, qt hanya menanggung pengumbaran iitu sendiri krn dia tdk memberi kewajiban apapun, ia menjadi kesibukan favorit para pecinta diri sendiri. Dia adlh sebuah hutan, tanpa masa depan, dan masa lalu, terutama tanpa janji, maupun sanksi yg segera. Medan pengaruhnya terpisah dari dunia ini, kita tinggalkan kekhawatiran maupun harapan saat memasukinya.
133, semestinya pada akhirnya saya dapat menemukan kedamaian dan kebebasan dalam pengumbaran nafsu yang menyenangkan itu
154, kebenaran itu seperti cahaya, silaukan mata yg memandangnya, kebohongan itu seperti senja, kilau remang2 merah saga yang indah, yang membuat setiap benda jadi bernilai.
171, Di ujung semua kebebasan, ada satu hukuman, yaitu kenapa kebebasan terlalu berat ditanggung, terutama jika kita, tidak mencintai siapapun