Julia Navarro
Ufuk Press, Jakarta, cetakan I, Desember 2007, 692 hal
Terjemahan the Brotherhood of the holy shroud, 2004
378, aku telah mengenal bangsa Sarasen dan menghormati mereka. Mereka ternyata bijak di kalangan mereka sendiri, mereka terhormat, bersikap ksatria, dan selalu menghargai. Mereka adalah musuh yang tangguh, yang harus kita hormati. Mustahil tidak berteman dengan mereka, jika kita menempati tanah yang sama dan perlu berhubungan damai dengan mereka.
396, setelah bertahun-tahun di Timur, Biara telah berubah. Para ksatrianya kini telah menghargai nilai-nilai musuh mereka – Para Ksatria Templar tidak hanya puas terlibat dengan mereka dalam peperangan, melainkan juga dalam kkehidupan sehari-hari, dan dari situlah tumbuh rasa saling menghormati antara para ksatria Templar dengan bangsa Sarasen.
489, hatinya dikuasai penyesalan yang mendalam karena pergi, karena dia tahu bahwa saudara-saudara sesame anggota ordo pasti akan gugur. Dia tahu bahwa dia meninggalkan negeri ini untuk selamanya, bahwa dia tidak akan kembali, dan bahwa di Prancis yang indah dia akan mengingat keringnya udara gurun, kebahagiaan perkemahan Sarasen tempat dia menjalin banyak persahabatan – karena apapun yang terjadi, yang namanya lelaki tetap lelaki, tak peduli Tuhan mana yang dia sembah.
Dan dia telah melihat kehormatan, keadilan, dukacita, kebahagiaan, kebijaksanaan, dan kesengsaraan di jajaran musuh-musuhnya, sebagaimana juga di kelompoknya sendiri. Mereka tidak berbeda – mereka hanya bertarung di bawah panji yang berbeda.
528, Pamannya akan memasuki pertempuran paling berat, melawan musuh yang tak kenal kejantanan dalam berperang dan tidak memiliki kehormatan – seorang musuh yang bukan bangsa Sarasen, namun Philippe dari Prancis, raja mereka.
533, Dia, Philippe, Raja Prancis, mematuhi hukum-hukum Gereja. Tetapi apakah dia mematuhi hukum-hukum Tuhan?
675, Tuhan tidak berpihak kepadanya. Kini perkumpulan harus menghentikan usahanya karena tidak berhasil merebut kembali kain pembungkus Kristus, Karena itulah kehendak Tuhan. Addaio tidak habis piker bahwa tujuan Tuhan menempatkan mereka dalam kondisi seperti itu adalah untuk membuktika kekuatan mereka.
Mungkin keikhasan terhadap kehendak Tuhan inilah pelajaran yang bisa dipetik dari kafan itu, pelajaran yang selalu harus mereka pahami. Addaio terlambat mempelajarinya. Apakah musuh-musuhnya suatu hari juga akan memahami pelajaran serupa.
682, orang-orang ini tidak pernah berkomplot melawan negara, melawan negara manapun; mereka tidak mencoba merongrong pemerintahan demokrasi; mereka tidak terlibat dengan mafia atau oraganisasi kriminal lainnya; mereka tidak melakukan apapun bahkan yang bisa dicela, apalagi dijadikan tuduhan. Dan lagi, menjadi Ksatria Templar bukanlah kejahatan – seandainya pun mereka memang Ksatria Templar.
685, “sedikit sekali kalian mengenal umat manusia!”
686, “Aku tidak pergi begitu saja. Tidak ada sesuatu atau seorang pun yang kutinggalkan begitu saja”.
Dia tahu bahwa hati Sofia hancur, dan terluka, dan dia tidak bisa menawarkan apa-apa untuk membantunya.
687, “Sofia aku juga telah terluka. Ada luka, luka yang menyakitkan, yang tidak bisa kalian lihat, tetapi luka itu ada. ….tapi aku bukanlah orang yang bisa menguasai semua keadaan, dan kita hanyalah manusia yang memiliki kehendak bebas. Kita semua memutuskan apa yang ingin kita lakukan dalam drama kehidupan kita – kita semua,”
689, tidak ada seorangpun memiliki kuasa atas masa lalu, bahwa masa lalu tidak bisa diubah, bahwa masa kini adalah bayangan dari diri kita di masa lalu, dan hanya akan ada jika kita tidak mengambil langkah mundur.
Novel keren….
membawa pencerahan..
tentang nilai-nilai cinta kasih dgn musuh dalam sebuah perjuangan,
setidaknya aku mendapat jawaban
kenapa aku tidak bisa membenci orang-orang yang membenci aku
masing-masing kita telah memilih peran dalam drama kehidupan ini
kita hanyalah manusia2 yg memiliki kehendak bebas
tapi mesti memainkan peran sebaik yg kita bisa