Wednesday, July 2, 2008 1:55 AM
From: “Hudan Hidayat” HudanHidayat@yahoo.com
To: “Apresiasi Sastra” , jurnalperempuan@yahoogroups.com, Forum-Pembaca-Kompas@yahoogroups.com
antara tuhan dan pengarang
Membayangkan sastra tanpa pembaca, seolah membayangkan Tuhan tanpa ciptaanNya. Tanpa ciptaanNya, Tuhan taklah berarti apa-apa. Hanya Dia sendirian dengan kebesarannya yang terpendam.
Maka adalah meleset kalau ada yang bilang, Tuhan tak butuh manusia, kitalah yang butuh Tuhan. Pernyataan seperti ini seolah sebuah kenyataan: ada pembaca sastra, tapi tak ada karya sastra untuk dibaca.
Demikianlah eksistensi Tuhan mendapat pengakuan, justru ketika ada manusia yang bisa mencerna segenap eksistensiNya. Sebagaimana eksistensi sebuah karya sastra akan hidup ketika ada pembaca karya sastra.
Tapi, tunggu dulu: bukankah Tuhan bisa ada dengan sendirian, di mana ciptaanNya hanya ada di dalam angan-angan- Nya? Seperti pengarang bisa ada dengan sendirian, di mana ciptaannya hanya ada di dalam angan-angannya juga. Itulah saat ketika sebuah karya sastra bisa terjadi tanpa tokoh, tanpa tema, dan tanpa gaya. Sastra tanpa bahasa yang dikenal manusia sebagai aksara.
Tapi yang hendak saya katakan adalah: imajinasi itu bisa mewujud ke dalam bahasa, dan bisa pula mewujud ke balik jiwa manusia.
(Hudan Hidayat)
Aku suka kata-kata Pak Hudan yang terakhir: imajinasi itu bisa mewujud ke dalam bahasa, dan bisa pula mewujud ke balik jiwa manusia.
Jika imagi diganti karya sastra, maka karya sastra bisa pula mewujud ke balik jiwa manusia.
Kdg aku bertemu orang-orang. Orang-orang yang ketika berbicara dgnnya seperti menikmati sebuah karya sastra indah…
Bicara dengan ponakanku Dian….
Bicara dengan Eko…
Bicara dengan Umi..
Bicara dengan Ferdy..
Bicara dgn Guru Meswa..
Mereka gk ngasilkan karya sastra berbentuk tulisan..
Tapi bicara dgn mereka efeknya seperti baca novel bagus..
Dapet pencerahan…