Kembang Jepun
Remy Sylado
Gramedia, Jakarta, cetakan kedua April 2003
319 halaman
92, Sesudah itu, dalam banyak saat sendiri, di luar kerja sebagai geisha, saya merenung-renung dan menimbang-nimbang, apa sebenarnya arti rindu itu. Tahulah saya, bahwa rindu bukan rasa ingin untuk bersatu tubuh. Kalau sekedar melakukan bersatu tubuh, geisha melakukannya saban hari, dengan banyak lelaki. Sementara itu, terhadap satu orang lelaki, yang wajahnya terus terbayang dalam diri saya, tanpa keinginan untuk melakukan satu-tubuh, adalah rindu yang sebenarnya, yaitu keihklasan untuk menyangkal kepentingan lahiriah bagi kepentingan batiniah, mengenai berahi dengan kasih, serta pemufakatan budi antara yang diucapkan dan dilakukan.
108, Dari situ saya peroleh pengetahuan yang baru, bahwa persahabatan yang ikhlas tidak datang tiba-tiba, melainkan melalui perbagai pengalaman selingkuh antara cemburu, curiga, dan culas. Dan, penghargaan orang terhadap harkat seseorang, ditentukan oleh fithar orang itu sendiri dalam hal menghargai dulu harkatnya tersebut. Saya bilang hati kecil saya dapat menyesatkan, namun jika bukan lantaran hati kecil itu jua yang menyebabkan saya nekat, maka keadaannya niscaya belum begini.
113, Ia (Yoko) teruskan, “Kita yakin kita perempuan setelah kita tahu ada lelaki dalam diri kita. Kodrat alami kita sebagai perempuan teruji setelah kita hamil, beranak, dan menyusui. Nikah membantu kita untuk menguji kodrat alami itu.
163,
“Kata Mbah Soelis, setelah tujuh bulan, dia akan bikin tontonan lagi, Lara Ireng. Tapi itu tidak terlaksana, sebab saya tidak berhasil……”
“Sudahlah. Tidak usah dipikirkan. Baru tujuh bulan, Nabi Ibrahim menunggu seratus tahun sampai Sarahnya mengandung.”
Saya menangis. Entah bagaimana mulanya. Pokoknya airmata mengucur di pipi. Tjak Broto memang lelaki yang ajaib. Saya semakin mengerti artinya kasih sayang, justru di saat saya merasa gagal memberinya benih kasih sayang.
284, Setahun, dua tahun, dan bertahun-tahun sudah saya terbiasa hidup di sini. Hutan makin lebat mengitari saya. Saya kira, lebih baik saya kuburkan saja cita-cita, supaya dengan begitu berhentilah derita. Kalau saya mati, biar saya mati di sini, sehingga tamatlah cerita:
saya tidak mau lagi memimpikan pertemuan
bukan sebab telah tewas
kata-kata waris Ibunda mewakili hati saya
untuk jangan menyerah pada akal
tapi sebab perjalanan yang saya lewati terlalu melelahkan
dan tempat istirahat ketika lelah
hanya separuh rasa…
317, Dan Tjak Broto tidak sanggup lagi menunda rindu. Ia peluk si Keke tua dan mencium pipinya berlama. Lalu pipi itu sama-sama basah oleh air mata kaharuan, kebanggaan, dan kesukacitaan. Inilah kemegahan cinta yang tulen, yang pernah berakar, dan pernah berantakan, tapi kini kembali, karena nurani yang tidak pernah menyerah. Cinta yang sungguh memang tidak pernah merasa kalah. Ia dipijak, dianiaya, diperkosa, dan dipaksa untuk mati, tapi tak pernah ia merasa kalah, tak pernah ia binasa. Sebab demikian cinta yang tulen itu diboboti nurani, bahwa ia yang tidak tetap, melainkan adalah ia suatu mahkamah Illahi yang terus dan tetap mengimbau-imbau orang seorang untuk bertahan dalam penyerahan kepada_nya. Dalam kedua batin orang-orang yang sudah tua ini, berakar penyerahan untuk hanya kepada-Nya.