Oleh Qaryati, S.Pd
Staf Disperindag Prov. Kep Babel
Mengikuti seminar yang diadakan oleh LSM KAMPAK (Kesatuan Aksi Masyarakat dan Pemuda Anti Korupsi) yang bertemakan “Penerapan Kurikulum Pendidikan Anti Korupsi Sejak Dini dalam Upaya Menciptakan Generasi Muda Anti Korupsi” di Gedung Serbaguna Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Air Itam (29/11) membuat saya merumuskan beberapa pertanyaan, yang saya fikir akan terjawab sebagai oleh-oleh dari seminar tersebut, antara lain: Apa bentuk kurikulum pendidikan anti korupsi? Apa metodenya? Apa materinya? bagaimana bentuk evaluasinya?
Setiap kurikulum pasti memiliki unsur utama yaitu tujuan, sesuatu yang akan dicapai. Tujuan terdiri dari kompetensi dasar dan indikator apa yang akan dimiliki seorang peserta belajar sebagai penanda keberhasilan.
Dari dua buah materi yang saya dapatkan yaitu: Buku Seri Pendidikan Anti Korupsi (Aku Calon Pemimpin Bertanggung Jawab, Disiplin, Jujur) dan Buku Panduan Pelajar Terpuji, dicantumkan bahwa pendidikan anti korupsi bertujuan untuk menanamkan dan membentuk perilaku anti korupsi kepada pelajar. Indikator perilaku anti korupsi adalah jika pelajar telah memiliki watak : Jujur, Bertanggung Jawab, Berani, Gigih dan Ulet, Kreatif, Peduli, Disiplin, Kebersamaan, Kesederhanaan.
Saya berfikir bahwa kurikulum pendidikan anti korupsi berbentuk hidden kurikulum, nilai-nilai ditanamkan dengan pendekatan heuristik, dimana pembelajaran bukan proses mentransfer pengetahuan, tapi proses dimana guru membantu pelajar bagaimana untuk belajar, bagaimana guru menciptakan kondisi belajar yang menyenangkan.
Membaca buku Aku Calon Pemimpin,saya menemukan beberapa metode yang digunakan antara lain: (1) Study Kasus, pemberian artikel tentang kasus korupsi kemudian didiskusikan. (2) Project, pelajar diberi proyek seperti mencatat pemasukan dan pengeluaran untuk menanamkan kedisiplinan. (3) Game, pelajar diberi permainan yang membuat mereka memahami pentingnya berkerja sama, jujur, dan disiplin.
Dari buku Panduan Pelajar Terpuji, Saya berasumsi bahwa bentuk evaluasi pendidikan anti korupsi adalah program pemilihan pelajar terpuji yang diadakan pada catur wulan ketiga setiap tahun. Setiap murid diberi formulir dimana mereka akan memilih 5 orang pelajar terpuji di kelas masing-masing. Pelajar terpuji adalah para pelajar yang memiliki 9 indikator/perilaku/watak anti korupsi, yaitu: Jujur, Bertanggung Jawab, Berani, Gigih dan Ulet, Kreatif, Peduli, Disiplin, Kebersamaan, Kesederhanaan.
Yang menjadi pertanyaan dibenak saya seperti yang diajukan Saudara Febry Hendri dari divisi project monitoring pelayanan public (Indonesian Corruption Watch) yang membuka presentasinya dengan kalimat “dapatkah kurikulum pendidikan anti korupsi menciptakan generasi anti korupsi?”
Semudah itukah cara membentuk generasi anti korupsi?
Zulkifli, seorang penanya bahkan menyatakan sampai kapanpun korupsi tidak akan bisa hilang, selama orang masih butuh uang, yang perlu diperbaiki adalah moral bangsa ini.
Seorang penanya, Yusuf, dalam seminar menyampaikan bahwa dari dulu Indonesia sudah diajarkan pelajaran tentang budi pekerti, akhlak dalam pelajaran agama dan PMP, apakah pelajaran-pelajaran tersebut membawa dampak yang signifikan dalam membentuk moral bangsa ini?
Apa yang membuat Indonesia berbeda dengan negara maju lain? Apa sebenarnya yang menentukan nasib suatu bangsa? Sistem kah? Pemimpin kah? Di Swiss atau di Canada ketinggalan dompet di taman umum tidak akan membuat orang panik. Kenapa? Toh mereka bukan negara yang memiliki sistem hukum islam. Toh mereka bukan negara yang sistem kepemimpinannya kekhalifahan.
Setiap orang, setiap bangsa memiliki ciri/karakter yang membedakan dia dengan orang/bangsa lain. Karakter bangsa Jepang adalah sportif, berani mati. Karakter orang batak yang biasa dikenal orang adalah pekerja keras. Karakter orang Jawa yang biasa dikenal orang adalah lemah lembut. Karakter orang Amerika adalah blak-blakan dan selalu ingin jadi pahlawan.
Karakter inilah yang menentukan nasib suatu bangsa. Kenapa Spanyol /Italy jauh ketinggalan dari negara Eropa lain? Karakter bangsanya yang mengagung-agungkan romantisme dan dongeng-dongeng percintaan membuat mereka menjadi bangsa yang suka terlena dan berleha-leha.
Karakter terbentuk dari sikap, sikap terbentuk dari perilaku, perilau terbentuk dari kebiasaan. Sekali lagi… karakter inilah yang menentukan nasib seseorang, nasib suatu bangsa.
Apa karakter bangsa Indonesia? Menbudpar Jero Wacik saat Temu Pelajar se-Bali menyampaikan sejumlah persoalan mendasar mengenai bangsa Indonesia; Apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan bangsa ini? Mengapa bangsa ini menjadi bangsa yang pemarah, pembenci, pendendam, dan pendengki. Di manakah perasaan santun dalam bertutur kata, dan dimanakah rasa sopan dalam bergaul? Apakah semua ini telah meninggalkan bangsa sehingga tidak ada lagi rasa aman dan nyaman di bumi pertiwi ini atau mungkin bangsa kita tidak lagi mampu berpikir positif? Gara-gara berebut ladang jagung kita saling berbunuhan. Gara-gara urusan pacaran muda-mudi antar kampung saling menghancurkan. Gara-gara kalah Pemilu sarana umum dihancurkan. Mahasiswa, gara-gara pemilihan ketua senat saling tawuran.
Sekali lagi.. nasib bangsa ini tergantung pada karakter bangsa ini. Menciptakan generasi anti korupsi berarti membangun karakter anti korupsi.
Character cannot be develop in ease and quite. Only through experience of trial and suffering can the soul be strengthened, vision cleared, ambition inspired, and success achieved.” Helen Keller (1880-1968)
Membangun karakter tidak semudah dan secepat mengajarkan rumus keliling lingkaran. Membangun karakter hanya bisa diajarkan melalui pengalaman. Anda tidak akan pernah merasakan betapa nikmatnya kenyang dan berbadan sehat, kalau anda tidak pernah merasakan kelaparan dan sakit. Anda mungkin akan sulit mensyukuri mendapat uang 20rb, kalau sedari kecil anda sudah terbiasa megang duit ratusan ribu. Anda mungkin tidak tahu bagaimana cara berempati pada seseorang yang tidak percaya diri, kalau anda adalah manusia yang dianugrahi fisik yang sempurna dan diberi kelimpahan harta. Anda mungkin tidak tahu bagaimana caranya berbagi, kalau anda adalah anak tunggal atau pribadi yang terbiasa mementingkan diri sendiri.
Jadi bagaimana membangun karakter anti korupsi. Pertama jangan putus asa…. dengan mengatakan Indonesia tidak akan pernah bersih dari korupsi. Indonesia pernah punya Ratu Sima di Kalimantan, pemimpin yang jujur, dimana rakyat hidup makmur dan rukun. Ketika ada sekeping uang emas jatuh di jalan, selama bertahun-tahun tak ada seorang pun yang berani memungut uang tersebut. Ketika uang emas itu dipungut oleh anaknya, Ratu Sima menghukum keras anaknya. Ini hanya contoh bahwa budaya anti korupsi, penegakan hukum secara tegas, budaya jujur pernah eksis di negeri tercinta ini.
Kedua, kepada guru-guru, Pendidik bangsa Indonesia, para pahlawan tanpa tanda jasa. Marilah kita mengevaluasi materi (apapun) yang kita ajarkan. Jadikan pembangunan karakter sebagai muatan baik konkrit maupun hidden dalam kurikulum kita. Sebagai guru kita juga mesti jeli dan kritis terhadap materi. Berusahalah menyisipkan nilai-nilai moral dan agama.
Seperti pelajaran ekonomi, saat kita mengajarkan teori piramida Kebutuhan Maslow. Menurut Maslow, kebutuhan manusia terdiri dari beberapa tingkatan: basic need (makan-minum), safe need (keamanan, kenyamanan), self esteem need (penghargaan), actualization need (aktualisasi diri). Sebagai guru apakah anda mengajarkan bahwa makan dan minum adalah kebutuhan utama, setelah itu baru papan, dan yang terkahir adalah aktualisasi diri. Sedangkan dalam Islam, aktualisasi diri adalah kebutuhan mendasar manusia. Man arofa nafsahu, fakod arofa robbahu. Siapa yang tidak mengenal dirinya, maka tak kan mengenal Tuhannya. Aktualisasi diri, menemukan jati diri, bahwa sebagai manusia kita hanya hamba Allah yang tujuan penciptaannya di dunia hanya beribadah kepada Sang Pencipta. Itulah seharusnya kebutuhan dasar manusia. Bukan makan dan minum, bukan rumah dan mobil, bukan jabatan tinggi.
Menetapkan aktualisasi diri, menemukan jati diri sebagai kebutuhan dasar bukan berarti melemahkan semangat pelajar untuk menuntut ilmu tinggi, untuk menggapai prestasi. Tapi sebagai pondasi dasar bagi mereka, bahwa ilmu tinggi, harta berlimpah, jabatan tinggi adalah amanat yang harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk hajat hidup orang banyak, untuk kemajuan kehidupan masyarakat dan bangsa tercinta ini.
Ketiga, menciptakan kondisi pembelajaran dimana -tanpa disadari melalui proses tersebut- tertanam di hati dan jiwa pelajar karakter anti korupsi.
Saya teringat waktu SD, SMP, dan SMA saat aktif mengikuti kegiatan pramuka. Nilai bertanggung jawab tertanam karena anak pramuka biasa diberi tugas-tugas yang jika tidak dilaksanakan akan diberi hukuman. Nilai Berani terpatri karena anak pramuka sudah terbiasa dengan uji mental. Gigih dan Ulet, pramuka banget dengan kegiatan halang rintang dan tali temali. Kreatif, anak pramuka biasa dalam kondisi sederhana, di hutan sehingga terbiasa mencari cara baru untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Peduli, anak pramuka diajarkan peduli lingkungan dengan menanami hutan gundul (Pramuka Saka Wana Bhakti) atau tentang kesehatan (Saka Bhakti Husada). Anak pramuka biasa hidup bersih dengan operasi semutnya. Disiplin, pendidikan pramuka yang dikenal semi militer membuat anak pramuka biasa dengan disiplin. Kebersamaan dan kesederhanaan itu sudah ciri khas pramuka. Semua nilai-nilai tersebut diajarkan dalam suasana menyenangkan dan riang gembira. Anak Pramuka tidak pernah diberi teori apa arti disiplin, apa arti bertanggung jawab, apa arti jujur, tapi kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan tanpa mereka sadari merupakan proses pembentukan, proses penanaman nilai-nilai yang kemudian menjadi kebiasaan, menjadi sikap, dan akhirnya menjadi karakter anak pramuka.
Salah satu hal terindah yang diajarkan Pramuka, dulu saya suka menangis setiap menyanyikan lagu Indonesia Raya, karena teringat betapa beratnya para pejuang bangsa berjalan ratusan kilometer menyusuri pegunungan bukit barisan dari Sumatra Utara sampai Sumatra Barat saat agresi Belanda II, sedangkan saya mendaki gunung merapi di Bukittinggi saja kram betis ampe nangis. Betapa mengenaskan, para pahlawan bangsa dengan bambu runcing menghajar senjata Belanda, sedangkan saya pake sepatu butut dan jalan kaki ke sekolah, serta gak dikasih uang jajan saja, sudah merasa malu. Betapa kuat hanya dengan bekal kerak nasi, atau makan dedaunan di hutan Cut Nyak Dhien tetap teguh melawan Belanda, sedangkan kita makan nasi cuma lauk tempe serasa jadi orang termiskin di dunia. Apakah tidak bersyukur juga sumber motivasi perilaku korupsi.
Berikut ini adalah janji indah, sumpah setia seorang Pramuka Penggalang yang mesti tertanam dalam jiwa mereka, yang biasa diikrarkan setiap memulai latihan/kegiatan.
Dasadharma Pramuka
Pramuka itu:
1. Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2. Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia.
3. Patriot yang sopan dan ksatria.
4. Patuh dan suka bermusyawarah.
5. Rela menolong dan tabah.
6. Rajin, terampil, dan gembira;
7. Hemat, cermat, dan bersahaja;
8. Disiplin, berani, dan setia;
9. Bertanggung jawab dan dapat dipercaya;
10. Suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan.
Anti korupsi banget gitu loch…….
Gerakan Pramuka bisa menjadi alternatif penerapan kurikulum pendidikan anti korupsi, jika pembina pramuka benar-benar menjiwai nilali-nilainya.
Tulisan ini sebagai hadiah untuk Febriyani dan Fitriana, mahasiswa Akbid Pangkalpinang, yang tidak memiliki kesempatan bertanya saat seminar, karena keterbatasan waktu, yang pertanyaannya kira-kira seperti ini: tema seminar ini adalah “Penerapan Kurikulum Pendidikan Anti Korupsi Sejak Dini dalam Upaya Menciptakan Generasi Muda Anti Korupsi” tapi sepanjang seminar tidak disinggung apa bentuk upaya tersebut, dan tidak pernah disebut hal-hal yang berkaitan dengan generasi muda. Yang dibahas malah tentang dana bos, pencegahan korupsi, dan penindakan kasus korupsi yang terjadi di birokrasi.
[...] sabtu 29/11 aku ikut seminar anti korupsi [...]