Twilight Tak Lebih dari sekedar mitos Patriaki
From: “dri_julius” <dri_julius@yahoo.co.id>
To: jurnalperempuan@yahoogroups.com
Banyak pembaca—terutama gadis remaja— yang terseret dalam pesona novel ini. Apalagi, sempat ada beberapa komentar yang menyebutkan bahwa novel ini telah berhasil mengungguli novel Harry Potter dan menjadi ikon baru di dunia per-vampire- an yang sebelumnya diduduki oleh pionir sastra `seram’, Anne Rice.
Pesona Mitos, Gemerlap Twilight
Melacak jejak-jejak obat bius dalam novel Twilight, ada baiknya bila kita menggunakan pisau analisis dari Mikhail Bakhtin, seorang pemikir yang hidup dalam kurun waktu 1895-1925. Dengan kacamata berpikirnya, dia mengemukakan bahwa dalam pembacaan suatu teks, yang terjadi adalah proses dialogis antara teks dan si pembaca tersebut.
Meminjam kerangka berpikir kaum strukturalis, bahwa si pembaca (individu) tersebut telah dibentuk oleh struktur-struktur tanda dan pemaknaan lingkungan di mana dia berada. Maka, ketika dia berjumpa dengan teks, maka terjadi pula perjumpaan antara subyektifitas pembaca dan makna obyektif teks tersebut. Makna yang kemudian hadir disarikan dari proses kedua entitas tersebut yang saling berhubungan—pemikiran subyektif dan teks itu sendiri.
Selama ini, kesadaran perempuan dibentuk atas tangan-tangan budaya patriarki. Perempuan dididik dalam inferioritasnya dan selalu ditekankan sejak kecil untuk bersikap feminin (lemah-lembut) . Lain
halnya dengan anak laki-laki. Budaya patriarki yang menempatkan lelaki sebagai warga kelas satu di atas perempuan justru mendidik anak lelaki dalam peran gender yang agresif (maskulin).
Dalam kisah Twilight, konstruksi gender a la patriarki ini tergambar dengan jelas dalam bentuk sepasang tokoh utamanya, Isabella Swan dan Edward Cullen. Isabella digambarkan dengan seorang gadis yang amat sangat akrab dengan tugas-tugas domestiknya sebagai seorang perempuan. Hal ini tampak dari kebiasaanya memasak makan malam dan mengurus ayahnya. Isabella juga digambarkan sebagai tokoh perempuan yang ceroboh dan gampang melakukan hal-hal yang akan membuatnya terluka.
Di sinilah, tokoh Edward Cullen, sang vampire, itu mendapatkan peran utamanya. Remaja pria yang cool ini menggoda Bella dengan kemisteriusannya dan perlahan-lahan mereka pun dekat, kemudian saling jatuh cinta. Digambarkan bahwa Edward Cullen seringkali menyelamatkan Bella dari kecelakaan yang akan merenggut nyawanya. Bahkan, pada puncak novel ini, saat Bella terancam oleh keganasan vampire bernama James yang haus darah, Edward kembali datang menyelamatkan kekasih pujaannya itu.
Jelas dan kasat mata sekali bahwa Twilight menenguhkan stereotype perempuan lemah yang menanti datangnya superhero lelaki untuk menolong atau berpegang teguh padanya.
Apalagi, dalam sekuel keduanya, New Moon, tergambar pula Isabella yang digambarkan kehilangan semangat hidupnya tanpa Edward dan begitu rapuh. Gambaran perempuan lemah terus dipertahankan bahkan sampai buku ketiganya, Eclipse di mana kedua lelaki—Edward dan Jacob—kembali turun tangan untuk menyelamatkan Bella. Inilah indoktinasi lembut budaya patriarki yang akan terus meneguhkan posisi perempuan yang lebih rendah daripada lelaki.
Kalau begitu, bagaimana kisah patriarkis ini mampu mempesona jutaan gadis?
Menilik struktur penceritaan dan gaya kepenulisan Stephenie Meyer, kemampuan menulisnya masih kalah dibandingkan dengan J.K Rowling, Bram Stoker, dan Mary Shelley yang padat, bernas, dan mampu menggunakan deskripsi menyeluruh atas situasi dan tokoh-tokohnya.
Penulis Twilight tampaknya hanya terpaku pada penggambaran fisik dan ketampanan Edward secara berlebihan, sehingga tak menimbang aspek-aspek lainnya. Coba iseng-iseng hitung berapa kali dia mengatakan dada Edward bidang dan kokoh.
Penutup: Adakah Keabadian?
Dalam sekuel penutup Twilight Saga, Breaking Dawn, dikisahkan bahwa Bella dan Edward pun hidup bersama selama-lamanya (tipikal dan gampang tertebak sekali!). Cerita selesai. Melihat hal ini mengingatkan kita
pada sindrom `Cinderella Complex’ di mana seolah-olah dengan pernikahan atau hidup bersama pasangan lelakinya, perempuan akan beroleh kebahagiaan dengan sendirinya.
Dalam mitos ini, terjadi pembungkaman besar-besaran terhadap kekerasan dalam rumah tangga.
Padahal, tak dapat dipungkiri, pernikahan bila diamini dalam budaya patriarki—bukan dalam semangat kesetaraan— adalah salah satu bentuk kontrol laki-laki atas seksualitas perempuan. Agaknya kutipan dari penulis Mesir, Nawal El-Sadaawi jauh lebih cocok: “Perkawinan adalah lembaga yang dibangun atas penderitaan yang paling kejam untuk kaum perempuan”
Bella memang wanita yg suka berkorban, demi kebahagiaan Ibu ia rela pindah ke kota sepi t4 Ayahnya. Bella emang suka memasakkan makan malam ayahnya, so what? dia ikhlas lakukan itu. apakah akan lebih indah jika Bella jadi wanita kutubuku yg kerjaannya hanya belajar, atau jadi anak gadis yg suka keluyuran di mall dan praktikkan freeseks?
klw dia jadi wanita kikuk.. mudah tersandung… lemah… so what?.. ada wanita yg memang berkepribadian seperti itu.. itu bukan suatu dosa toch??
Bella memang amat Rapuh ditinggal Edward, dan Edward juga tak kalah rapuh ketika meninggalkan Bella. Bella menyembuhkan dirinya dgn berteman dgn jacob. Edward justru ingin bunuh diri ketika Alice si peramal melihat bayangan Bella terjun dari tebing yg amat tinggi. siapa yg menyelamatkan Edward dari ancaman kematian keluarga Volturi?? BELLA
.
lelaki yang menyelamatkan wanita bukan suatu kehinaan bagi wanita khan? sebagaimana wanita menyelamatkan lelaki juga bukan suatu kebanggaan yg mesti disombongkan bagi seorang wanita… karena di mata Allah semua manusia baik lelaki maupun wanita sama… ketaqwaan lah yg membedakan
pertama menikah…. Edward sang Vampire bercinta dgn Bella manusia.. yg mengakibatkan memar2 di sekujur Bella… betapa hebat Edward sang vampire menahan diri, karena klw vampire lain bercinta.. maka tidak ada satupun manusia yg bisa selamat… pasti mati tercabik2…..
klw dibaca lebih lanjut… Bella yg kemudian mengandung anak vampire.. janin ini menggerogoti tubuh Bella sampai Bella akhirnya mati…. anaknya selamat, dan Bella kemudian disuntik dgn virus vampire oleh Edward. Bella jadi seorang vampire.. vampire muda yg sgt fresh.. sangt kuat.. sangat penuh tenaga….
Bella dgn sgl kekuatannya.. ia lebih hebat dari vampire lain, karena pengendalian dirinya.. kekuatan Bella memasang perisai menyelamatkan hidup seluruh keluarga Edward.. seluruh sahabat2 keluarga Edward, seluruh manusia srigala….. dari ancaman kematian keluarga Volturi yang ingin membunuh anak Bella dan seluruh keluarga Bella…
betapa perkasanya Bella…. ketika dia setara.. sama2 vampire… sama dengan Edward… kekuatannya jauh melebihi yang lain….
Bella is the superhero….. Twilight Saga adlh kisah superhero perempuan…..
Tapi lebih dari itu semua… inti dari cerita twilight Saga menurut aq, adalah quote pembuka stephenie Meyer di Breaking Dawn:
Masa kanak-kanak bukan karena dilahirkan bagi usia tertentu dan
pada usia tertentu anak bertumbuh, dan
meninggalkan hal-hal kekanakan.
Masa kanak-kanak serupa kerajaan di mana tak ada yang meninggal
(Edna St. Vincent Millay)
anak-anak dgn segala kemurniannya, menilai manusia bukan dari apa warna bajumu, apa yang kau bawa, dan apa yang kau beri, tapi dari setulus apa isi hatimu….
Dalam cerita seperti ini, stereotipnya IMO bukan gender, tetapi: yang superhuman menolong ordinary human, apalagi kalo masalah datang dari superhuman lainnya, dimana kekuatan manusia biasa tidak mampu. Memangnya kalo Bella laki2, dia bisa melawan James?
Cinta terlarang, tentu saja. Apa lagi? Cewek siapa tidak berdebar membayangkan dipacari vampir super cakep?
KDRT itu kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi, tetapi bukan sebab-akibat pasti dari pernikahan. Pernikahan adalah hal yang membahagiakan. Karena itu selama konflik rumah tangga tidak diceritakan si pendongeng, sah2 saja diasumsikan bahwa Cinderella dan semua penderita “Cinderella Complex” hidup bahagia ’selamanya’ (literally for vampires).
thanx for sharing Jensen…
aku setuju klw twilight saga bukan cerita bias gender
banyak orang sudah kehilangan kepercayaan akan institusi pernikahan, makanya beranggapan pernikahan adlh ladang penderitaan buat wanita.
salut buat aku sendiri dan orang-orang yg masih berpegang teguh akan kesakralan arti sebuah pernikahan, orang-orang yang memercayai pernikahan suatu cara penyempurnaan setengah diennya…